Endang Burhanuddin Sukses Berbisnis di Dunia Optik


Bila kita membaca kisah Sukses para pengusaha, tidak sedikit para pengusaha yang lahir dari keluarga yang berekonomi serba pas-pasan. Salah satunya adalah Endang Burhanuddin. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang kuliah, Burhanuddin mudah rela berjualan berbagai hasil kerajinan Tasikmalaya, mulai dari tas, dompet, pas bunga dan sebagainya. Awalnya ia memulai usaha dengan modal Rp 5000-10.000 untuk membeli produk. Uang tersebut didapat dari meminjam uang SPP (yang saat itu masih berkisar antara Rp 20.000-Rp 30.000 per semester) kiriman orang tua. dan target pasarnya adalah teman-teman kuliahnya sendiri. ia menetapkan harga jual 100% dari harga beli dengan omset yang bisa didapatnya sebesar Rp 20.000. setelah beberapa kali kulakan barang dengan membeli cash, produsen mulai memberi kepercayaan kepadanya dengan sistem kredit. Hal memungkinkan bagi Burhanuddin untuk mengambil barang dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.

sukses berbisnis di dunia optik

Saat masih kuliah ditingkat II, ia mengikuti tes CPNS sebagai Gurut. ternyata ia diterima dan mendapat tugas mengajar di daerah Cinangkap, Kabupaten Serang Banten. disana ia masih terus berjualan barang-barang hasil kerajinan anyaman Tasikmalaya ditambah dengan produk lain seperti jaket, kaos, sandal dan lain-lain.

Mulai Merambah ke Bisnis Optikal

Meski sibuk dengan kegiatan mengajar dan berjualan, tetapi Burhanuddin tetap bertekad untuk menyelesaikan kuliah ditengah kesibukannya, ia masih sempat mengerjakan tugas akhir kuliah hingga kelar dan menamatkan Sarjana muda tahun 1980. Demi melanjutkan kuliah tingkat Doktoral di IAIN SGD Bandung, ia mengajukan pindah mengajar. ia kemudian ditempatkan di SDN Ciporeat, Ujung Berung, Bandung. Disanalah bisnis kacamata mulai dirintis.

Ketertarikannya di dunia bisnis optikal ini berawal saat ia bertemu dengan saudaranya yang menjadi Sopir disebuah toko optik di Bandung. Dari saudaranya itu ia mendapatkan informasi bahwa berbisnis di dunia optik ternyata memberikan banyak keuntungan dan memiliki prospek bagus. Saudaranya juga menunjukan dimana ia bisa mendapatkan bahan baku kacamata. Burhanuddin pun nekat terjun ke bisnis ini. ia mulai merintis bisnis dengan menjadi pedagang kacamata normal dan gaya (sun glasess). Setelah merasakan sendiri bagaimana bagusnya prospek di bisnis ini, maka mulailah ia berpikir untuk menambah modal usaha.

Akhirnya ia mendapat pinjaman uang dari kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) untuk menyelesaikan skripsinya. uang itu ia pergunakan untuk membeli mesin tik dan buku-buku. Sisanya dipakai untuk menambah modal dengan membeli alat periksa mata (trail lens) dan beberapa buah frame. untuk menambah kemampuannya dibidang optik, ia belajar secara otodidak dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang pemeriksaan refraksi pada mata dari referensi buku atau bertanya kepada orang-orang yang terjun langsung di dunia optik (baik pemilik, tukang faset dan refraksionis) maupun lewat seminar, pelatihan serta penataran dibidang refraksi optikal. melalui pelatihan itu ia belajar tentang penggosokan lensa hingga penataran tentang peningkatan manajemen usaha UKM. ia pun mendapat berbagai sertifikat tentang optik dari tingkat dasar sampai nasional.

Awalnya ia memasarkan produk dengan sistem direct selling yang dilakukan secara door to door. ia menawarkan kepada rekan-rekan sesama PNS dan datang kesekolah-sekolah atau instansi yang memiliki potensial pasar bagus. ia juga pernah mengirimkan surat yang berisi iklan tentang produk-produknya. Namun, strategi pemasaran ini kurang bagus responsnya. Setelah menyelesaikan sarjana pada tahun 1983, Burhanuddin dipindah tugaskan ke SMAN Cikotamas, Tasikmalaya. Sisa watu mengajar ia pergunakan untuk mengembangkan usaha dibidang optik.

pada tahun 1988, setelah melewati proses yang lumayan alot dengan melalui berbagai brokrasi seperti dari Depkes, Deperindag, dan Pemkot, barulah ia mendapatkan izin usaha resmi dari Deperindag dan surat izin optikal daro Depkes Jawa Barat. Toko optiknya ini berdiri di jalan desa Cipadung No. 37 yang sekaligus menjadi rumah tinggalnya. ia memberi nama tokonya Burhanuddin Optikal (BHO). Meski sudah memiliki toko optik sendiri, tetapi Berhanuddin masih tetap melakukan penjualan dengan sistim direct selling sampai sekarang.

Setelah mampu ekses dengan toko optiknya di Cipadung, pada tahun 2006, suami dari Iyun Sulsilah ini mulai mengembangkan usaha dengan membuka cabang di dekat R.S. Ebah Majalaya. Tempat ini dirasa kurang strategis karena berada didalam. Pelanggan pun kebanyakan hanya menampung resep dokter di rumah Sakit tersebut. Untuk mengontrak tempat tersebut, ia harus mengeluarkan biaya Rp 550 ribu per bulan, dengan pemasukan keuntungan berkisar antara Rp 3-5 juta per bulan. keuntungan ini masih dipotong untuk biaya listrik, telepon dan gaji karyawan. memang masih menyisakan keuntungan tetapi jumlahnya relatif kecil. meski demikian, Burhanuddin tidak kapok untuk membuka cabang baru sehingga mampu menggenjot pendapatan hingga mencapai Rp 11-15 juta per bulan.

Menangkap Peluang Usaha di Bidang Lain

Tinggal diwilayah yang dekat dengan kampus UIN SDG Bandung membuka peluang bagi Burhanuddin untuk membuka usaha kos-kosan. Pada tahun 1985 Ia pun membeli tanah seharga Rp 2,5 juta, kemudian membangun rumah dengan lima kamar. Karena pada waktu itu ia belum memiliki anak, maka ia dan istrinya hanya memakai satu kamar sedangkan empat kamar lain di kontrakan. Dengan disiplin menabung, dua tahun berikutnya ia mampu mengumpulkan dana untuk membangun empat kamar lagi ditingkat dua. Begitu seterusnya sehingga ia mampu memiliki kos-kosan dengan 77 kamar yang dikontrakan kepada para mahasiswa dan Mahasiswi. Total penghasilannya dari kontrakan saja mencapai Rp 114,75 juta per tahun.

Peluang usaha lain yang diambil oleh Burhanuddin adalah wartel. Pentingnya alat komunikasi bagi anak-anak kos atau orang-orang disekitar tempat tinggalnya, menjadi alasan baginya untuk mengelola usaha ini. Selain mencoba memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam bidang komunikasi lewat usaha wartel, ia juga membuka usaha kantin agar anak-anak kosnya tidak perlu jauh-jauh mencari warung makan, sementara rintisan usaha awalnya di bisnis kerajinan Tasikmalaya pun tetap dijalankan.

Satu lagi pengembangan bisnis yang sedang dibangun adalah tempat pemancingan dan penjualan ikan yang dilengkapi fasilitas untuk meeting. Tempat yang dibangun di jalan mbah jaksa, daerah Cipadung diharapkan bisa menjadi sarana rekreasi keluarga dan menjadi tempat rapat atau pertemuan bagi instansi tertentu. Pembangunan tempat yang sudah berjalan sekitar 70% ini menghabiskan biaya lebih dari Rp 370 juta.

Tips Sukses Usaha ala Bpk. Burhanuddin

1. Di mana ada kemauan, disitu pasti ada jalan.
2. Ingin mengubah kehidupan menjadi lebih baik demi menuju ridha allah adalah motivasi tinggi dalam beramal, termasuk dalam berbisnis.
3. Pandai-pandailah menangkap peluang bisnis yang ada dengan keterampilan atau tim yang kita miliki.
4. memiliki keterampilan pada bidang usaha tertentu itu mudah, tetapi lebih sulit adalah bagaimana meyakinkan konsumen bahwa produk kita adalah yang terbaik dan mereka butuhkan.

Di balik semua kesuksesan materi yang diraihnya, Burhanuddin yang sudah memiliki lebih dari sepuluh orang karyawan ini hanya berharap menjadi orang yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat. Itulah kisah sukses Burhanuddin yang sukses di dunia bisnis Optik. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Sumber : Buku 99 Bisnis Modal ≤ Rp 10 Juta

Bagikan Artikel ini :
tags: , , ,

JANGAN LEWATKAN: