Kisah Sukses Yopi Hendra Dari Pekerja Jadi Pengusaha


Kisah sukses Yopi Hendra dari pekerja hingga akhirnya jadi pengusaha Aksesoris ini mungkin bisa menjadi Inspirasi anda untuk terus bersemangat dan bekerja keras dalam menjalankan bisnis. Aksesoris seperti peniti, bros, pita dan lain-lain yang identik dengan perempuan ini ternyata menjadi garapan bisnis yang sangat menarik bagi Yopi hendra 34 tahun. Lalu bagaimana pria kelahiran bukit tinggi ini yang saat itu masih menjadi karyawan di sebuah penerbitan buku di Bandung memulai bisnisnya? Ternyata sederhana, saat itu ia diminta mengantarkan ibunya yang datang jauh-jauh dari bukit tinggi ke Pasar Baru Bandung untuk membeli aksesoris sebagai oleh-oleh. Ia mengantarkan ibunya datang ke penjual grosir langsung dan melihat perbedaan harga yang sangat jauh antara harga yang ada di penjual toko umum dengan harga di grosir aksesoris. Kalau biasanya di toko umum harga suatu barang Rp 2.000,- sedangkan di grosir hanya Rp 500,- dengan kualitas barang yang sama. Melihat hal itu membuat Yopi tertarik untuk menekuni bisnis ini.

Kisah Sukses Yopi Hendra Dari Pekerja Jadi Pengusaha aksesoris

Hanya dengan modal Rp 300ribu, Yopi pun mulai kulakan barang-barang aksesoris termasuk palstik untuk pengemasnya. Pada awalnya dia hanya berjualan di tempat-tempat pengajian, di lapangan Gasibu atau di tempat lain yang di perkirakan banyak pembelinya. Karena masih bekerja di penerbitan buku, ia pun hanya bisa berjualan setiap hari minggu saja, sedangkan sabtu ia gunakan untuk kulakan barang. Keuntungan yang di dapat Yopi dari jualan aksesoris ini sepenuhnya ditabung untuk keperluan modal.

Yopi Hendra mulai berbisnis sejak tahun 2001, setelah satu tahun menjalankan bisnis ini, dia kemudian memutuskan keluar dari zona nyaman sebagai pekerja dan menjemput rezeki dengan menjadi seorang entrepreneur. Ia mulai menyewa sebuah counter di super mini market (SMM) Daarut Rauhid (DT), Bandung dengan biaya Rp 300rb perbulan dengan menggunakan modal yang berhasil dikumpulkannya dari bisnis aksesoris tersebut ketika masih bekerja. Di counter inilah dia mulai mempekerjakan karyawan yang digaji dengan sistem bagi hasil 10-15% dari keuntungan. Pada tahun 2006 Yopi menambah counter kecil di depan masjid DT dengan harga sewa enam juta rupiah pertahun. Setiap tahun biaya sewa counter tersebut naik Rp 500rb. Namun, karena kebijakan pesantren DT yang menempatkan counter di depan masjid hanya untuk berjualan makanan, ia pun harus melepas counter tersebut akhir 2008 dan bergabung dengan pedagang lain di bazar samping SMM DT.

Pesantren DT di pilihnya sebagai tempat bisnis karena selain dekat dengan tempat kerja waktu itu sebagai karyawan atau santri disana, ia juga melihat peluang besar dengan banyaknya tamu yang datang setiap minggu ke pesantren milik K.H. Abdullah Gymnastyar atau biasa disapa Aa Gym ini. Pengunjung yang datang memang padat terutama pada hari kamis dan minggu.

Akan tetapi Yopi tidak mengandalkan sepenuhnya satu tempat saja, tahun 2006 ia pun melirik tempat strategis lain di Bandung seperti Bandung Indah Plaza dan Geger Kalong namun karena kurang Lancar ia pun kembali Fakus berjualan di DT. Bahkan untuk meningkatkan penjualan Yopi juga pernah mempekerjakan orang sebagai direct selling atau sales barang dagangannya ke sekolah-sekolah, kampus, perumahan dan tempat lainnya dengan sistem bagi hasil. Tapi setelah berjalan sekitar beberapa bulan ternyata hasilnya juga kurang memuaskan sebab kurang bisa mencapai target penjualan, Dia pun berhenti mepekerjakan sales.

Menggenjot Penjualan Melalui Pameran

Yopi Hendra kemudian mulai berpikir untuk mengenjot penjualan dengan cara lain. Salah satunya adalah dengan ikut menggelar dagangan di pameran-pameran buku. Hingga akhirnya pada tahun 2013 dia mulai mengikuti Bazar. Terkadang ada yang tidak mencapai target pada pameran ini, tetapi dari beberapa event yang pernah di ikuti ternyata ia mendapatkan keuntungan yang lumayan. Dari setiap event yang diikuti ia bisa meraup keuntungan antara Rp 10-15 juta.padahal dia bisa mengikuti 3-4 kali pameran dalam satu bulan. Kemudian Yopi mulai melebarkan sayap penjualannya dengan mengikuti pameran di luar kota. Meski keuntungan yang di dapat sedikit berkurang untuk transportasi dan ongkos kirim barang, setidaknya Yopi bisa menambah relasi di luar kota.

Lalu bagaimana strategi yang di Lakukan Yopi untuk menggenjot penjualan melalui pameran? Berikut penjelasnya.

  1. Pemilihan tempat bazar yang tepat.
  2. Pemilihan tanggal. Pilih event pameran yang diselengarakan antara tanggal 1-15. Jangan mengikuti bazar pada tanggal tua karena daya beli masyarakat atau pengunjung biasanya berkurang.
  3. Penggajian karyawan penunggu bazar. Yopi masih menggunakan sistem bagi hasil sekitar 10% khusus pameran, ia memberikan ongkos transportasi dan uang makan untuk mereka. Biasanya ia menggunakan dua orang karyawan untuk satu stand.
  4. Penataan tempat dan barang dagangan harus di buat semenarik mungkin, termasuk penampilan kemasan.
  5. Penggantian barang dagangan kadang diperlukan tergantung tema acara yang ditetapkan panitia. Terutama bila ada beda buku anak, maka perbanya aksesoris kebutuhan anak, bila perlu menjual Edu Toys atau permainan edukatif untuk anak.

Tips Sukses Ala Yopi hendra

  • Landasi Bisnis untuk meraih keridaan allah.
  • Jangan jadikan pedangan lain, terutama yang bergerak pada bidang yang sama sebagai pesaing tetapi jadikanlah sebagai mitra.
Bagikan Artikel ini :
tags: , ,

JANGAN LEWATKAN: